Laman

Yang Ditinggalkan, Yang Dirindukan

Jatipurno, 29 Juli 2014
Pukul 22:55 WIB

  
“Terbayang-bayang perhatikan kamarku, mulai dari sepatu bola buntutku.
Gambar mantan pacar yang tak jemu-jemu, memandang kosong ruangan yang dulu”
Dik Doank

Sebuah lagu yang selalu membuat saya tersenyum jika menyanyikannya. Sebuah lagu tentang rumah, kampung halaman dan masa lalu. Terutama di bagian “gambar mantan pacar yang tak jemu-jemu”. Karena sebenarnya bukan gambar mantan pacar yang saya simpan di kamar (seingat saya, dia ga pernah jadi pacar saya). Lebih tepatnya mungkin “gambar istri orang” (plak ! plak ! plak ! bro sadar bro).

Jangan sampai judul di atas mengecewakan kalian, saya tidak ingin membicarakan istri orang di sini (mengingat senyumannya mungkin iya....).

Dua hari sudah saya di kampung halaman tercinta, sejenak meninggalkan galaunya ibu kota. Yupz, ibu kota memang sedang dibuat galau oleh Owo dan Owi. Udara dingin yang cenderung kering membuat kulit jadi mbekisik. Tapi saya tetap bahagia berada di sini. Meskipun harus menempuh perjalanan selama 36 jam !!!. 36 jam duduk di dalam sebuah bus yang AC nya kadang hidup kadang tidak. Yang sebentar-sebentar ngambek, minta dibenerin mesin nya. Ini sebenarnya bus antar kota atau cewek ABG sich ? Ini bahkan jauh lebih menyiksa daripada 1 jam menonton Kian Santang. Serius !!!

Beruntungnya mereka yang tak perlu meninggalkan kampung halaman untuk mencari rupiah di luar sana. Mungkin mereka tak perlu merasakan penderitaan seperti yang saya rasakan. Tetapi mungkin mereka juga tidak pernah merasakan betapa bahagianya orang yang pulang ketika telah lama mereka meninggalkan. Banyak orang yang ketika mudik membawa mobil baru, sepeda motor baru (dan pacar baru pastinya....) hanya sekedar untuk membuktikan kalau mereka sukses di sana (bukan saya ga suka, saya hanya ga punya...). Tapi bagi saya, mereka yang bisa survive di sini jauh lebih hebat dibandingkan mereka yang sukses di luar sana. Karena memang itu tidak mudah. Buktinya, bahwa kebanyakan mereka sukses setelah mereka mengembara ke dunia persilatan eehh ke kampung halaman orang bukan ? Aah rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau (sama artinya dengan pacar tetangga tampak jauh lebih memukau).

Apa sebenarnya yang menarik dari kota ini ? Wonogiri. Mungkin banyak dari kalian yang belum tahu, tapi sebenarnya Shireen Sungkar berasal dari sini (silahkan tanya Sutradara Cinta Fitri kalau ga percaya !!!). Dingin memang, tapi tak ada gunung seindah di Puncak. Tak ada sungai yang airnya jernih (kalau sungai yang air nya kering, banyak). Sangat jauh dari kampung-kampung yang digambarkan di dalam FTV. Yang ada disini gunung batu, tanah tandus dan kering, udara berdebu, jalan-jalan yang rusak parah dan suara knalpot motor yang war wer wor (bahkan suaranya jauh lebih kencang daripada kecepatannya).

Lalu apa sebenarnya alasan saya dan mereka pulang (ke kampung halaman) ketika liburan. Salah satu alasannya adalah nostalgia.

Ya, nostalgia. Klasik memang. Walaupun itu juga bukan salah satu alasan utama. Mengingat masa kecil, saat kita tumbuh, saat kita bermain, saat kita belum peduli dengan masa depan. Saat kita ngemut es lilin sementara ingus dleweran, sentrap- sentrup (sedikit menambah rasa asin pada es yang sebetulnya manis). Saat kita pergi ke sekolah tokoran (tidak pakai sepatu) karena musim hujan. Ngarit (mencari rumput, biasanya disertai mencuri buah yang ditemui hahaha), ngangon (menggembala ternak), memet (menangkap ikan), mlintheng (menembaki burung dengan ketapel), omplong (sejenis permainan mirip bowling tradisional yang dimainkan dengan batu). Semua pernah saya lakukan ketika kecil. Jalan, lapangan, sungai, sawah bahkan di atas pohon saja mungkin kita punya cerita. Sudah lama berlalu memang, tapi masih asyik untuk dikenang.

“Even though the days go on, so far so far away from. It seems so close.”
One Ok Rock

Kepulangan saya kali ini dalam rangka Libur Lebaran. Seperti tahun-tahun sebelumnya Sholat Ied dilakukan di lapangan desa. Saya bertemu dengan beberapa teman masa kecil saya yang uniknya sebagian besar dari mereka sudah menikah dan punya anak. Terus terang saya sedikit iri (bukan pada istrinya lho..!!!), tapi pada nyali yang mereka miliki. Untuk laki-laki, memutuskan untuk hidup berkeluarga di usia yang masih muda membutuhkan nyali yang luar biasa. Salut !!

Seperti tradisinya, ketika Lebaran pasti kita mengunjungi dan dikunjungi oleh sanak saudara. Ada beberapa teman saya yang bikin lawakan malas berlebaran karena lelah sering ditanya “Kapan nikahnya ?”. Apakah itu juga berlaku buat kalian ? Anehnya itu tidak berlaku buat saya. Jarang ada yang nanya “Kapan rabi, Le ? (Kapan nikah, Nak ?). Mungkin hanya satu, dua yang bertanya seperti itu. Teman, saudara atau tetangga saya lebih banyak yang bertanya “Saiki thik gondrong ?” (Sekarang kamu kok rambutnya panjang ?), atau “Awakmu thik kuru men to Le, neng Jakarta po ra mangan ?” (Badan mu kok kurus sekali to, apa jarang makan di Jakarta ?).

Untuk yang pertama saya bisa jawab. Saya gondrong sebenarnya hanya untuk mengetahui reaksi orang lain terhadap penampilan saya, hahaha (ga penting banget bukan.....). Untuk pertanyaan kedua yang sulit saya jawab, Kenapa badan saya kurus ? karena saya sendiri sebenarnya juga kurang yakin apa penyebabnya. Akhirnya setelah saya duduk, bertapa, merenung sambil melepas beban di kamar mandi (entah kenapa kadang datang ide ketika sedang asyik di kamar mandi) saya menemukan penyebabnya. 

Penyebabnya adalah karena saya ga punya pacar, behahaha. Lho ?? Kok bisa ?? Apa hubungannya dengan berat badan ?? Logikanya kalau kita punya pacar pasti ada yang bilangin “Sayang, jangan lupa sarapan yaa sebelum berangkat kerja. Biar kerjanya jadi semangat. Luv U” itu kalau pagi. Kalau siang “Udah jam 12 loh, Sayang sudah makan apa belum ? ntar sakit lho kalau telat makannya”. Malamnya “Sayang tadi pulang jam berapa ?, sebelum tidur makan sama mandi dulu ya.. jangan lupa buat mimpiin aku entar.” Masuk akal bukan ?? 3 kali sehari. Itu kalau pacarnya cuma satu, kalau dua, 6 kali sehari makan nya, hemm. Jadi, kesimpulannya kalau pengin cepet gemuk carilah pacar lebih dari satu, kalau pengin kurus, segera saja putusin pacarnya.

Sayangnya, hanya tinggal beberapa hari saja waktu saya di kampung halaman. Saya harus kembali lagi ke kota. Bukan karena saya rindu tapi karena tuntutan untuk memenuhi kebutuhan. Harus menunggu satu tahun lagi untuk bisa pulang ke rumah. Itu waktu yang cukup lama. Tetapi selama apapun, sejauh apapun dan sesering apapun kita meninggalkannya, kita akan selalu merindukannya. Kampung halaman.

Sampaikanlah pada Ibu ku, aku pulang terlambat waktu
Ku akan menaklukkan malam
Sampaikanlah pada Bapak ku, aku mencari jalan atas keresahan ini”
Eross & Okta

Tetapi sebelumnya, ada satu permintaan Ibu yang harus saya penuhi. Potong rambut !!


By Achmad Hardiyanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar