Laman

Sekedar Berharap

Jatipurno, 05 Oktober 2016
Pukul 10:17 WIB


Hemm, 4 tahun bikin blog dan isi artikelnya cuma 3 ekor. Benar-benar blogger yang produktif. What a genius writer.....lol

Apakah kamu suka atau pernah nonton film-film Superman? atau malah fanboy superhero tersebut? Santai...., saya ga akan menanyakan kenapa dia pakai kain gorden jendela, atau kenapa dia pakai celana dalam di luar, warna merah lagi. Tahukah kamu apa arti huruf S di dada Superman? Bukan, huruf S itu bukan berarti “Superman”. Itu adalah simbol keluarga Kal El yang berarti “harapan”. Mungkin Kal El adalah wujud dari harapan Jor El selaku ayahnya akan eksistensi bangsa Krypton. Kal El dikirim ayahnya ke bumi agar selamat karena planet Krypton dilanda kehancuran total. Silakan tonton film Man of Steel untuk jelasnya. Saya ga terlalu suka filmnya, tapi saya suka Amy Adams, hahaha.

Harapan. Kata yang sering kita dengar, sebuah kata yang klise. Setiap manusia pasti punya harapan. Apa harapan kamu? punya mobil mewah, punya uang banyak, punya pacar seorang artis? Kita tahu bahwa kebanyakan harapan tidak berakhir seperti yang kita inginkan, kebanyakan dari mereka berakhir menyedihkan. Tetapi masih saja kita berharap.

Pernahkah kamu berharap seseorang putus dari pacarnya? Atau malah mendo’akannya segera putus dari pacarnya? Come on man, don’t lie to me!! It’s okay, itu ga jahat sama sekali kok. Toh, kamu ga mendo’akan sesuatu yang buruk menimpa dirinya. Kamu malah mendo’akan dia untuk mendapatkan yang terbaik. Sungguh mulia bukan? Tapi tentu saja menurut otak kamu yang agak miring itu yang terbaik untuknya adalah dirimu, hahaha.

Kamu tahu bahwa kemungkinan harapan kamu tercapai sangat kecil dan bahkan akan berakhir sangat menyakitkan. Kalaupun dia putus sama pacarnya belum tentu juga dia akan berpaling dan memilihmu. Tapi selama masih ada sedikit saja harapan, hal itu masih layak untuk diperjuangkan. Keep spirit!!

Life is a competition, right? Sesuatu yang sangat berharga pasti akan diperebutkan. Entah itu harta, jabatan atau janda eehh maksud saya wanita. Selama dia masih layak untuk diperjuangkan akan selalu ada aksi tikung-menikung, tekel-mentekel, adu trik dan strategi, dsb. Tetapi jangan sampai melanggar kaidah fairplay dan sportivitas, OK!!. No dukun, No gelut. Jangan menjatuhkan lawan dengan menyerang kejelekannya atau menyebarkan isu-isu yang ga benar. Karena itu ga keren sama sekali. Kita adalah pejuang bukan politikus. Tetap hormati lawanmu karena bisa saja dia satu rumah denganmu, hahaha.

Kalau kamu ingin pasanganmu tidak memberikan harapan sekecilpun pada orang lain. Caranya cuma satu!! Benar, tepat sekali. Segera putusin dia. Setidaknya kamu akan terhindar dari harapan untuk dapat memiliki dia selama-lamanya, hahaha.

Banyak orang hancur karena terlalu berharap tetapi mungkin juga itu adalah satunya-satunya alasan kita masih hidup di dunia. Karena masih ada harapan. Dan selama masih ada sedikit saja harapan, hal itu layak untuk diperjuangkan.

Kembali selimutan karena tampaknya di luar mendung dan sebentar lagi hujan....  

Teniireta pazuru
yorokobi ya kibō ayamachi kōkai mo
tsunagu jibun dake no mirai e
Teka-teki yang kudapat
Kegembiraan, harapan, kesalahan dan juga penyesalan
Menghubungkan diriku dengan masa depa
ONE OK ROCK

By Achmad Hardiyanto










Video Latihan 1



Judul                     : Tidung Project
Program             : Sony Vegas Pro 11.0
Kualitas               : Low Res


Yang Ditinggalkan, Yang Dirindukan

Jatipurno, 29 Juli 2014
Pukul 22:55 WIB

  
“Terbayang-bayang perhatikan kamarku, mulai dari sepatu bola buntutku.
Gambar mantan pacar yang tak jemu-jemu, memandang kosong ruangan yang dulu”
Dik Doank

Sebuah lagu yang selalu membuat saya tersenyum jika menyanyikannya. Sebuah lagu tentang rumah, kampung halaman dan masa lalu. Terutama di bagian “gambar mantan pacar yang tak jemu-jemu”. Karena sebenarnya bukan gambar mantan pacar yang saya simpan di kamar (seingat saya, dia ga pernah jadi pacar saya). Lebih tepatnya mungkin “gambar istri orang” (plak ! plak ! plak ! bro sadar bro).

Jangan sampai judul di atas mengecewakan kalian, saya tidak ingin membicarakan istri orang di sini (mengingat senyumannya mungkin iya....).

Dua hari sudah saya di kampung halaman tercinta, sejenak meninggalkan galaunya ibu kota. Yupz, ibu kota memang sedang dibuat galau oleh Owo dan Owi. Udara dingin yang cenderung kering membuat kulit jadi mbekisik. Tapi saya tetap bahagia berada di sini. Meskipun harus menempuh perjalanan selama 36 jam !!!. 36 jam duduk di dalam sebuah bus yang AC nya kadang hidup kadang tidak. Yang sebentar-sebentar ngambek, minta dibenerin mesin nya. Ini sebenarnya bus antar kota atau cewek ABG sich ? Ini bahkan jauh lebih menyiksa daripada 1 jam menonton Kian Santang. Serius !!!

Beruntungnya mereka yang tak perlu meninggalkan kampung halaman untuk mencari rupiah di luar sana. Mungkin mereka tak perlu merasakan penderitaan seperti yang saya rasakan. Tetapi mungkin mereka juga tidak pernah merasakan betapa bahagianya orang yang pulang ketika telah lama mereka meninggalkan. Banyak orang yang ketika mudik membawa mobil baru, sepeda motor baru (dan pacar baru pastinya....) hanya sekedar untuk membuktikan kalau mereka sukses di sana (bukan saya ga suka, saya hanya ga punya...). Tapi bagi saya, mereka yang bisa survive di sini jauh lebih hebat dibandingkan mereka yang sukses di luar sana. Karena memang itu tidak mudah. Buktinya, bahwa kebanyakan mereka sukses setelah mereka mengembara ke dunia persilatan eehh ke kampung halaman orang bukan ? Aah rumput tetangga memang selalu tampak lebih hijau (sama artinya dengan pacar tetangga tampak jauh lebih memukau).

Apa sebenarnya yang menarik dari kota ini ? Wonogiri. Mungkin banyak dari kalian yang belum tahu, tapi sebenarnya Shireen Sungkar berasal dari sini (silahkan tanya Sutradara Cinta Fitri kalau ga percaya !!!). Dingin memang, tapi tak ada gunung seindah di Puncak. Tak ada sungai yang airnya jernih (kalau sungai yang air nya kering, banyak). Sangat jauh dari kampung-kampung yang digambarkan di dalam FTV. Yang ada disini gunung batu, tanah tandus dan kering, udara berdebu, jalan-jalan yang rusak parah dan suara knalpot motor yang war wer wor (bahkan suaranya jauh lebih kencang daripada kecepatannya).

Lalu apa sebenarnya alasan saya dan mereka pulang (ke kampung halaman) ketika liburan. Salah satu alasannya adalah nostalgia.

Ya, nostalgia. Klasik memang. Walaupun itu juga bukan salah satu alasan utama. Mengingat masa kecil, saat kita tumbuh, saat kita bermain, saat kita belum peduli dengan masa depan. Saat kita ngemut es lilin sementara ingus dleweran, sentrap- sentrup (sedikit menambah rasa asin pada es yang sebetulnya manis). Saat kita pergi ke sekolah tokoran (tidak pakai sepatu) karena musim hujan. Ngarit (mencari rumput, biasanya disertai mencuri buah yang ditemui hahaha), ngangon (menggembala ternak), memet (menangkap ikan), mlintheng (menembaki burung dengan ketapel), omplong (sejenis permainan mirip bowling tradisional yang dimainkan dengan batu). Semua pernah saya lakukan ketika kecil. Jalan, lapangan, sungai, sawah bahkan di atas pohon saja mungkin kita punya cerita. Sudah lama berlalu memang, tapi masih asyik untuk dikenang.

“Even though the days go on, so far so far away from. It seems so close.”
One Ok Rock

Kepulangan saya kali ini dalam rangka Libur Lebaran. Seperti tahun-tahun sebelumnya Sholat Ied dilakukan di lapangan desa. Saya bertemu dengan beberapa teman masa kecil saya yang uniknya sebagian besar dari mereka sudah menikah dan punya anak. Terus terang saya sedikit iri (bukan pada istrinya lho..!!!), tapi pada nyali yang mereka miliki. Untuk laki-laki, memutuskan untuk hidup berkeluarga di usia yang masih muda membutuhkan nyali yang luar biasa. Salut !!

Seperti tradisinya, ketika Lebaran pasti kita mengunjungi dan dikunjungi oleh sanak saudara. Ada beberapa teman saya yang bikin lawakan malas berlebaran karena lelah sering ditanya “Kapan nikahnya ?”. Apakah itu juga berlaku buat kalian ? Anehnya itu tidak berlaku buat saya. Jarang ada yang nanya “Kapan rabi, Le ? (Kapan nikah, Nak ?). Mungkin hanya satu, dua yang bertanya seperti itu. Teman, saudara atau tetangga saya lebih banyak yang bertanya “Saiki thik gondrong ?” (Sekarang kamu kok rambutnya panjang ?), atau “Awakmu thik kuru men to Le, neng Jakarta po ra mangan ?” (Badan mu kok kurus sekali to, apa jarang makan di Jakarta ?).

Untuk yang pertama saya bisa jawab. Saya gondrong sebenarnya hanya untuk mengetahui reaksi orang lain terhadap penampilan saya, hahaha (ga penting banget bukan.....). Untuk pertanyaan kedua yang sulit saya jawab, Kenapa badan saya kurus ? karena saya sendiri sebenarnya juga kurang yakin apa penyebabnya. Akhirnya setelah saya duduk, bertapa, merenung sambil melepas beban di kamar mandi (entah kenapa kadang datang ide ketika sedang asyik di kamar mandi) saya menemukan penyebabnya. 

Penyebabnya adalah karena saya ga punya pacar, behahaha. Lho ?? Kok bisa ?? Apa hubungannya dengan berat badan ?? Logikanya kalau kita punya pacar pasti ada yang bilangin “Sayang, jangan lupa sarapan yaa sebelum berangkat kerja. Biar kerjanya jadi semangat. Luv U” itu kalau pagi. Kalau siang “Udah jam 12 loh, Sayang sudah makan apa belum ? ntar sakit lho kalau telat makannya”. Malamnya “Sayang tadi pulang jam berapa ?, sebelum tidur makan sama mandi dulu ya.. jangan lupa buat mimpiin aku entar.” Masuk akal bukan ?? 3 kali sehari. Itu kalau pacarnya cuma satu, kalau dua, 6 kali sehari makan nya, hemm. Jadi, kesimpulannya kalau pengin cepet gemuk carilah pacar lebih dari satu, kalau pengin kurus, segera saja putusin pacarnya.

Sayangnya, hanya tinggal beberapa hari saja waktu saya di kampung halaman. Saya harus kembali lagi ke kota. Bukan karena saya rindu tapi karena tuntutan untuk memenuhi kebutuhan. Harus menunggu satu tahun lagi untuk bisa pulang ke rumah. Itu waktu yang cukup lama. Tetapi selama apapun, sejauh apapun dan sesering apapun kita meninggalkannya, kita akan selalu merindukannya. Kampung halaman.

Sampaikanlah pada Ibu ku, aku pulang terlambat waktu
Ku akan menaklukkan malam
Sampaikanlah pada Bapak ku, aku mencari jalan atas keresahan ini”
Eross & Okta

Tetapi sebelumnya, ada satu permintaan Ibu yang harus saya penuhi. Potong rambut !!


By Achmad Hardiyanto

Ngelantur

Jakarta, 2 Mei 2012
Pk. 21.30 WIB

Masih dari sebuah ruangan, bagian yang tak terpisahkan dari sebuah rumah kontrakan yang saat ini saya klaim secara de facto maupun de jure sebagai kamar saya. Gerah dan panas tanpa AC ataupun kipas angin. Arepo bar adus tetep wae kemringet maneh.

Sejenak tadi bercermin, melihat tampangku sekarang. Rambut sudah hampir gondrong, kumis panjang walaupun jarang. Andai saya menyisir rambut klimis ke belakang, sekilas akan mirip gaya Vino G. Bastian di film Serigala Terakhir, hehehe.. Badan kecil, kurus kering, tinggal kulit yang membungkus tulang (melas banget kayaknya). Yang baru melihat saya untuk pertama kali mungkin saja akan mengira kalau saya ini tukang copet Blok M yang kecanduan ganja, atau gembel jalanan yang tidur dari emper toko satu ke emper toko lainnya, atau malah mungkin mengira saya adalah seorang seniman yang tergila-gila dengan karya seni seperti patung, lukisan atau puisi sehingga lupa makan. Sayangnya saya hanya laki-laki biasa yang menjalani hidup seperti laki-laki normal pada umumnya.

Apa yang salah ? saya makan seperti yang lain. Minum susu tiap pagi dan malam, tetap saja begini (mungkin bukan susu jenis ini yang saya butuhkan hehehe…)

Mungkinkah ? (saya bukan mau nyanyi ini..)

Mungkin jaman dulu ketika Bapak dan Simbok merancang saya, karena keterbatasan biaya, minimnya ilmu dan kurangnya penerangan (kemungkinan waktu saya lahir belum ada listrik di rumah saya), mereka meng-instal sebuah operating system yang meraka tak tahu bahwa itu software bajakan, kedalam directory C saya. Sehingga setelah expired, system di tubuh saya tak sanggup menerima semua program yang diberikan. Seperti tak mampu menyerap segala macam nutrisi dari apa yang saya konsumsi. Dan karena Simbok dan Bapak saya tak tahu, mereka pasti juga tak menambahkan crack ke dalam program untuk menormalisasikan system di tubuh saya.

Saya bukannya tanpa usaha, saya sudah mencoba bermacam-macam crack yang bisa saya dapatkan secara gratis dan ada juga dengan cara membeli, namun hasilnya belum terlihat nyata.

“Tenang aja Di (kependekan dari Hardi), ntar kalo udah nikah juga dapet crack nya.” Kata temen saya dengan santainya.

“Kalau sehabis nikah malah tambah kurus, gimana Mas ?” Tanya ku.

“Itu berarti susunya nggak cocok hahahaha…..” Jawabnya.
Atau mungkin beban masalah hidup saya terlalu berat. Tapi masalah apa ? Pekerjaan saya punya. Penghasilan, walaupun tak banyak tapi cukuplah buat makan, beli pulsa dan eksis di dunia maya. Wajah, lumayan handsome, mungkin sebelas dua belas dengan si vampire dari trilogy Twilight, Robert Pattinson itu. Walaupun tak seatletis Iko Uwais tapi okelah….

“Orang yang punya tahi lalat di pundak itu akan menjadi tumpuan dan tulang punggung keluarga.” Begitu kata si Bos. Benarkah itu, kalau benar apakah hal yang sudah saya berikan untuk keluarga saya saat ini. Belum ada, kecuali masalah. Mungkinkah saya terbebani dengan ucapan itu. Tetapi sebagai laki-laki saya seharusnya sudah merasa itu sebuah kewajiban.

Tapi saya yakin, Tuhan menciptakan saya dengan tubuh kecil ini pasti punya rencana tersendiri. Sayangnya kita tak pernah tahu rencana Tuhan. Tubuh yang kecil ini tak akan pernah bisa menghalangi mimpi dan ambisi saya. “Don’t look the book from the cover”, begitu kata Tukul Arwana. Jangan pernah menilai seseorang dari casing-nya. Karena penampilan pandai sekali menipu.“Jangan pernah berhenti bermimpi, karena mungkin suatu saat nanti mimpi itu jadi nyata”, begitulah kata-kata mutiara yang sering diucapkan oleh seorang Bambang Pamungkas.

Yuuppzz.
Tepat sekali, meskipun saya kecil, saya mempunyai mimpi yang sangat besar. Apa mimpi saya ? Mimpi saya saat ini adalah menghabiskan waktu dengan berlibur ke Dubai dengan seorang gadis bule pirang cantik yang kaya raya hahahaha…. Ya…., sekelas Gal Gadot atau mungkin seimut Emma Watson, lah. Hebat kan. Namanya juga mimpi, terserah saya mau mimpi apa. Saya juga ini yang tidur. Seperti kata Bepe, mungkin suatu saat nanti mimpi itu jadi nyata (ngarep hehehe). Mungkin jika saya ketemu jin blankon yang suka bilang wani piro itu, dia akan berkata dengan lantang kepada saya.“NGIMPI….!!!”

Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena esok masih misteri. Itulah seni dan keindahan dari kehidupan. Kita tak pernah tahu kenapa kita begini, kenapa kita ada di sini, apa yang terjadi besok, siapa yang akan kita temui. Nikmati dan jalani saja…..

Karena sudah larut malam, ngantuk dan pastinya saya sudah kehabisan ide dan kata-kata mari kita beranjak ke tempat tidur. Memejamkan mata dan bermimpi. Dan berharap akan terjadi hal yang luar biasa esok hari.

Selamat malam, kawan.

*Semoga esok bisa saya temukan crack itu…..


by Achmad Hardiyanto