Laman

Ngelantur

Jakarta, 2 Mei 2012
Pk. 21.30 WIB

Masih dari sebuah ruangan, bagian yang tak terpisahkan dari sebuah rumah kontrakan yang saat ini saya klaim secara de facto maupun de jure sebagai kamar saya. Gerah dan panas tanpa AC ataupun kipas angin. Arepo bar adus tetep wae kemringet maneh.

Sejenak tadi bercermin, melihat tampangku sekarang. Rambut sudah hampir gondrong, kumis panjang walaupun jarang. Andai saya menyisir rambut klimis ke belakang, sekilas akan mirip gaya Vino G. Bastian di film Serigala Terakhir, hehehe.. Badan kecil, kurus kering, tinggal kulit yang membungkus tulang (melas banget kayaknya). Yang baru melihat saya untuk pertama kali mungkin saja akan mengira kalau saya ini tukang copet Blok M yang kecanduan ganja, atau gembel jalanan yang tidur dari emper toko satu ke emper toko lainnya, atau malah mungkin mengira saya adalah seorang seniman yang tergila-gila dengan karya seni seperti patung, lukisan atau puisi sehingga lupa makan. Sayangnya saya hanya laki-laki biasa yang menjalani hidup seperti laki-laki normal pada umumnya.

Apa yang salah ? saya makan seperti yang lain. Minum susu tiap pagi dan malam, tetap saja begini (mungkin bukan susu jenis ini yang saya butuhkan hehehe…)

Mungkinkah ? (saya bukan mau nyanyi ini..)

Mungkin jaman dulu ketika Bapak dan Simbok merancang saya, karena keterbatasan biaya, minimnya ilmu dan kurangnya penerangan (kemungkinan waktu saya lahir belum ada listrik di rumah saya), mereka meng-instal sebuah operating system yang meraka tak tahu bahwa itu software bajakan, kedalam directory C saya. Sehingga setelah expired, system di tubuh saya tak sanggup menerima semua program yang diberikan. Seperti tak mampu menyerap segala macam nutrisi dari apa yang saya konsumsi. Dan karena Simbok dan Bapak saya tak tahu, mereka pasti juga tak menambahkan crack ke dalam program untuk menormalisasikan system di tubuh saya.

Saya bukannya tanpa usaha, saya sudah mencoba bermacam-macam crack yang bisa saya dapatkan secara gratis dan ada juga dengan cara membeli, namun hasilnya belum terlihat nyata.

“Tenang aja Di (kependekan dari Hardi), ntar kalo udah nikah juga dapet crack nya.” Kata temen saya dengan santainya.

“Kalau sehabis nikah malah tambah kurus, gimana Mas ?” Tanya ku.

“Itu berarti susunya nggak cocok hahahaha…..” Jawabnya.
Atau mungkin beban masalah hidup saya terlalu berat. Tapi masalah apa ? Pekerjaan saya punya. Penghasilan, walaupun tak banyak tapi cukuplah buat makan, beli pulsa dan eksis di dunia maya. Wajah, lumayan handsome, mungkin sebelas dua belas dengan si vampire dari trilogy Twilight, Robert Pattinson itu. Walaupun tak seatletis Iko Uwais tapi okelah….

“Orang yang punya tahi lalat di pundak itu akan menjadi tumpuan dan tulang punggung keluarga.” Begitu kata si Bos. Benarkah itu, kalau benar apakah hal yang sudah saya berikan untuk keluarga saya saat ini. Belum ada, kecuali masalah. Mungkinkah saya terbebani dengan ucapan itu. Tetapi sebagai laki-laki saya seharusnya sudah merasa itu sebuah kewajiban.

Tapi saya yakin, Tuhan menciptakan saya dengan tubuh kecil ini pasti punya rencana tersendiri. Sayangnya kita tak pernah tahu rencana Tuhan. Tubuh yang kecil ini tak akan pernah bisa menghalangi mimpi dan ambisi saya. “Don’t look the book from the cover”, begitu kata Tukul Arwana. Jangan pernah menilai seseorang dari casing-nya. Karena penampilan pandai sekali menipu.“Jangan pernah berhenti bermimpi, karena mungkin suatu saat nanti mimpi itu jadi nyata”, begitulah kata-kata mutiara yang sering diucapkan oleh seorang Bambang Pamungkas.

Yuuppzz.
Tepat sekali, meskipun saya kecil, saya mempunyai mimpi yang sangat besar. Apa mimpi saya ? Mimpi saya saat ini adalah menghabiskan waktu dengan berlibur ke Dubai dengan seorang gadis bule pirang cantik yang kaya raya hahahaha…. Ya…., sekelas Gal Gadot atau mungkin seimut Emma Watson, lah. Hebat kan. Namanya juga mimpi, terserah saya mau mimpi apa. Saya juga ini yang tidur. Seperti kata Bepe, mungkin suatu saat nanti mimpi itu jadi nyata (ngarep hehehe). Mungkin jika saya ketemu jin blankon yang suka bilang wani piro itu, dia akan berkata dengan lantang kepada saya.“NGIMPI….!!!”

Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena esok masih misteri. Itulah seni dan keindahan dari kehidupan. Kita tak pernah tahu kenapa kita begini, kenapa kita ada di sini, apa yang terjadi besok, siapa yang akan kita temui. Nikmati dan jalani saja…..

Karena sudah larut malam, ngantuk dan pastinya saya sudah kehabisan ide dan kata-kata mari kita beranjak ke tempat tidur. Memejamkan mata dan bermimpi. Dan berharap akan terjadi hal yang luar biasa esok hari.

Selamat malam, kawan.

*Semoga esok bisa saya temukan crack itu…..


by Achmad Hardiyanto